ILMU AD-DILALAH

Pengantar Ilmu Ad-Dilalah
Rabu, 28 Oktober 2009 15:21

A. Prolog

Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap disiplin ilmu tidak serta-merta lahir dengan kesempurnaan laiknya manusia yang mengalami pertumbuhan dari satu fase ke fase lainnya. Demikian juga dengan disiplin ilmu 'Ilmu Ad-Dilalah' yang notabenenya merupakan bagian dari disiplin ilmu 'Ilmu Al-Lughah' mengalami hal yang sama dalam kemunculannya di tengah kerumunan para saintis bahasa. Bermula dari adanya perselisihan antara saintis bahasa yang masih dan senantiasa mempertahankan paham al-ashalah [kemurnian dan keaslian] dan saintis mu'asharah yang ingin melihat adanya perubahan dalam bahasa Arab. Selanjutnya, saintis teloran baru ini berusaha menembus aral dalam penelitian kebahasaannya tanpa menoleh ke arah kemurnian dan kekhususan daya fikir dan daya ucap bahasa Arab. Hasilnya, mengakibatkan kerancuan pengetahuan antara turats arabi ilmi dan kebutuhan ilmiah lughawiah.

Olehnya, jikalau kita ingin mendasarkan suatu pemikiran arab mua'sharah yang menggeluti pembahasan bidang bahasa, tentunya kita mesti menghilangkan pemikiran secara lughawi terhadap turats; menelitinya; mengklarifikasi bahasannya dan memilah nilai-nilai positif dan negatifnya dalam cakupan standar tingkatan tema dan metode. Namun hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan melihat kembali sejarah pemikiran arab –secara umum- dan pemikiran bahasa –secara khusus- dan pastinya tuk kembali ke sana ada begitu banyak jalan yang mesti kita lewati dan lalui, kita mesti mengetahui sejarah perkembangan bahasa dalam pemikiran arab. Hal ini tentunya tidak akan terlepas dari beberapa disiplin ilmu lain yang tanpa disadari berhubungan langsung dengan bahasa. Dan pada akhirnya, kita dapat menjaga kemurnian dan keaslian turats, disamping mengetahui metode pemikiran yang layak dan pantas dipergunakan dalam pembahasan kebahasaan. Dan hasilnya, lahirlah teori daya ucap arab yang berbasis mu'asharah dan mampu memberikan kontribusi bagi pemikiran manusia yang kian lama kian mengalami perkembangan.

Teori daya ucap arab ini tidak akan ada jikalau kita tidak menggabungkan antara teori daya ucap barat dan daya ucap arab sehingga menghasilkan teori daya ucap arab yang bersifat mu'asharah. Dan dalam penggabungan keduanya ini, ada satu hal yang patut kita ingat, yaitu corak pemikiran arab. ”Sebab untuk memahami metode arab pada setiap disiplin ilmu turas, mesti mengaitkannya dengan kehidupan pemikiran orang arab, disamping mengenal corak berifikir orang arab secara umum yang tumbuh, berkembang dan mengakar dalam naungan AlQur'an. Sebagaimana diketahui bahwa para pemikir Islam dalam menyikapi setiap cabang suatu disiplin ilmu mereka terlebih dahulu memulainya dengan praktek sebelum meletakkan dasar-dasar metode dan teori. Sebagai contoh, membaca AlQur'an dengan cara talaqqi dan musyaafahah adalah jauh lebih dahulu keberadaanya dibandingkan dengan orang yang menyusun buku panduan dan metode membaca AlQuran secara baik dan benar ...”[1].

Jikalau proses ini telah terealisasi dalam cakupan keilmiahan metodenya, maka sudah barang tentu akan terlahir pemikiran daya ucap baru yang dapat menginterpretasikan dan merangkul secara sempurna segala tingkatan studi baik lughawiah [bahasa], shautiah [philology/suara penyebutan jenis huruf], tarkiibiah [susunan kata dan kalimat] dan dilaaliah [arti dan makna]. Dan dengan cara ini, kita dapat mengaitkan antara pemikiran bahasa sistem ala arab dahulu dengan pemikiran daya ucap sistem ala baru, sebab peralihan teori daya ucap baru -dengan sifatnya yang manusiawi- telah mencakup keseluruhan fenomena bahasa. Juga dengan terealisasinya, perhatian saintis bahasa di masa sekarang dapat terangkul semua olehnya, sebab –dengan beralihnya teori daya ucap ini menjadi suatu disiplin ilmu yang menjadikan bahasa manusia sebagai bahan garapannya- tidak lagi terhalangi oleh batasan pengetahuan yang bersifat spesifik. Dengan demikian, teori ini menjelma menjadi disiplin ilmu yang mencakup seluruh bahasa.

Dan pembahasan ilmu ad-dilalah sendiri masuk dalam pemaparan teori ini sebagai langkah peralihan menuju pembahasan turas dalam garapan disiplin ilmu bahasa. Sebagai contoh, para ahli ushul fiqh memberikan beberapa sampel dalam hal bagaimana mereka berinteraksi dengan bahasa laiknya bentuk aturan dari beberapa simbol daya ucap yang dalam gaya bahasanya tunduk pada aturan bijak dalam menyelesaikan tugas dilalahnya. Mereka juga sejak awal telah menyelesaikan masalah-masalah yang berkenaan dengan bahasa. Menambahkan karya pengetahuan dengan secermat mungkin sebagai hasil dari usaha mereka dengan menjadikan AlQur'an sebagai acuan utama dalam pengistinbatan hukum, dengan tidak melupakan dasar-dasar hukum bahasa yang salah satu keistimewaannya adalah ad-dilalah.

Jadi, pada awalnya pembahasan ad-dilalah dalam kajian turas bermula pada kajian disiplin ilmu lain (baca: ilmu ushul fiqh). Olehnya, tidak salah jikalau ada yang mengatakan ilmu ad-dilalah sangat erat kaitannya dengan ushul fiqh. Sebab, para ulama ushul fiqh pada mulanya seringkali meminjam kebaikan ad-dilalah dalam menyelesaikan suatu masalah. Dan dari situ pula, suatu pemasalahan bahasa dapat terpecahkan. Hal ini dapat kita lihat dalam kitab Al-Ihkaam Fi Ushuul Al-Ahkam, karangan aalim ushuuly, Saifuddin Al-Aamidy.



B. Sejarah Lahirnya Ilmu Ad-Dilalah

Bahasa semenjak lama telah berhasil menarik perhatian para pemikir, sebab bahasa adalah salah satu roda utama yang menjalankan kehidupan manusia semenjak diciptakannya, baik dalam berfikir terlebih lagi dalam hal berkomunikasi antar sesama manusia. Peranan bahasa tak seorang pun akan memungkirinya. Dan dengan bahasa pula sejarah pun tecatatkan dalam buku-buku. Bahkan kita-kitab suci yang dianggap sakral bagi umat-umat terdahulu oleh manusia termaktubkan dengannya. Orang-orang Hindustan, sebagai contoh, memiliki kitab suci, Weda yang tak lain juga merupakan sumber studi bahasa dan daya ucap khususnya. Dan dari sinilah, sejarah permulaan bahasa dianggap sebagai mata pelajaran dan studi.

Namun, tak ada yang luput dari perdebatan dan perselisihan terhadap sesuatau yang belum jelas secara pasti keberadaannya atau kelahirannya. Demikian halnya dengan bahasa, sejarah lahirnya pun menuai pedebatan. Banyak pendapa yang dilontarkan oleh para saintis sejarah dan bahasa mengenai kapan dan dari mana awal kemunculan bahasa di tengah manusia. Di antara sederetan pendapat itu, ada yang mengakatakan: ”keberadaan bahasa erat kaitannya dengan hubungan antara kata dan makna, sama halnya eratnya hubungan antara api dan asap”[2]. Jadi, Bahasan ad-dilalah pun lebih fokus pada hubungan antara kata dan makna. Olehnya, ada dua sisi yang saling kait-mengait dalam bahasan ini, hubungan antara kosakata dan kalimat dan hubungan lafadz dan makna.

Hal ini nampak pada studi dilalah orang Hindustan dulu yang membagi dilalah kata dalam empat bagian:

1. dilalah kata yang bemakna umum, seperti: lelaki;

2. dilalah kata yang bermakna bentuk, seperti: tinggi;

3. dilalah kata yang bermakna pesitiwa atau pebuatan, seperti: datang;

4. dilalah kata yang bemakna diri atau person, seperti: Muhammad[3].

Pembahasan makna dalam bahasa (baca: ilmu ad-dilalah) jauh sebelumnya telah mendapat perhatian baik dan hal ini terbukti dilakukan oleh para saintis Hindustan.

Hal serupa juga terjadi di Yunani, terdapat banyak istilah-istilah pengetahuan yang erat hubungannya dengan ilmu ad-dilalah. ”Platon sendiri pernah berdialog dengan gurunya, Socrates tentang tema hubungan lafadz dengan arti. Platon mengungkapkan pendapatnya bahwa terdapat hubungan natural antara ad-daal (lafadz) dan al-madluul (arti). Beda halnya sang Guru, ia mengakui bahwa antara keduanya memang terdapat hubungan namun hanya sekedar pengistilahan. Ia membagi kalimat dalam dua bagian, kalimat luar dan kalimat dalam diri. Disamping ia membedakan antara fonem (suara) dan makna yang sesuai dengan gambaran yang ada di akal. Sehingga di saat tenarnya pembahasan ini bermunculanlah aliran-aliran yang membahas studi makna ini, seperti aliran Ar-Ruwaqiyyin dan aliran Iskandaiah”[4].

Di Roma juga demikian, para saintis Roma memiliki peran penting dalam studi bahasa, khususnya berkenaan dengan ilmu An-Nahw (grammer). Dan hingga abada ke 17, buku-buku hasil buah tangan mereka masih menjadi buku utama di sekolahan. Dan puncak keemasan dan kegemilangan studi bahasa di Roma terjadi di masa lahirnya paham Iquest Scola, dimana terjadi perdebatan sengit tentang hubungan kosakata dan arti-artinya. Para pemikir pun terbagi dua dalam perdebatan ini, ada yang berpendapat bahwa hubungan keduanya hanya sekedar hubungan biasa (besifata sementara). Sedang golongan kedua mengatakan bahwa hubungan keduanya bersifat alami[5].

Sedangkan di jazirah Arab, sejarah muculnya ilmu dilalah ini sudah lama, semenjak awal-awal abad. Hal ini nampak dari adanya perhatian yang amat besar dari para saintis Arab. Dan sebagai contoh konkrit dan bukti nyata yang masih sempurna dan utuh hingga sekarang pemberian titik dan baris pada AlQur'an. Hal ini dianggap sebagai bagian dari cakupan ilmu dilalah, sebab AlQur'an pada mulanya hadir tanpa ada titik dan baris. Selanjutnya, perubahan suatu kata, baik itu pemberian titik atau baris menjadikannya beralih tugas dan secara otomatis memiliki makna baru. Dan ini peristiwa inilah termasuk salah satu sebab munculnya ilmu Nahw[6].

Dan tentunya, studi bahasa yang dilakukan oleh para saintis Arab tidak sebatas itu. Berbagai macam disiplin ilmu baru lahir dari keaktifan para saintis Arab menekuni AlQuran sebagai kitab yang kaya akan ilmu pengetahuan. Dan untuk sampai pada disiplin ilmu yang baru itu perlu mengkaji secara cermat dan teliti AlQuran dan pastinya ilmu dilalah salah satu diantara prangkat untuk mengkaji AlQuran. Mulai dari masa Nabi hidup hingga masa sekarang kajian terhadap AlQuran senantiasa ada dan ilmu dilalah salah satu di antara sekian banyak disiplin ilmu yag mesti diketahui sebelum mengkaji AlQuran khususnya dan Bahasa Arab umumnya.

Kemudian, tibalah masa kebangkitan ilmu ini dimana seorang saintis bernama Michelle Breal pada tahun 1883 mengumumkan kelahiran suatu disiplin ilmu baru yang dalam pembahasannya amat memperhatikan "makna/arti". Ia mengistilahkan dengan sebutan semantic[7].



Defenisi Ilmu Ad-Dilalah

Laiknya disiplin ilmu lain yang defenisinya tiap saintis berbeda satu sama lain tentangnya. Begitupula dengan disiplin ilmu ini, defenisinya pun tak kurang dari satu.

Namun penulis kira dari deretan pendapat tersebut intinya hanya satu sebagaimana yang dikatakan oleh saintis Perancis Michele Breal bahwa akan hadir ilmu yang fokus pembahasannya adalah makna atau arti. Jadi, ilmu ad-dilalah ialah ”ilmu yang mempelajari tentang makna”[8].

Namun demikian, terdapat defenisi ilmu ad-dilalah yang lebih spesifik dari defenisi sebelumnya. ”Ilmu Dilalah atau Semantic adalah disiplin ilmu bahasa yang baru, membahas tentang dalalah bahasa dan tunduk apada aturan-aturan bahasa dan simbol-simbolnya tanpa selainnya. Bahasannya ialah studi makna bahasa terhadap kosakata (mufradaat)dan kalimat-kalimat (taraakiib)”[9]. Jadi, kedua defenisi memiliki tujuan dan bahasan yang sama, hanya defenisi pertama lebih umum dibandingkan defenisi kedua.



Bahasan-bahasan Ilmu Ad-Dilalah

Dari awal sejarah kemunculan ilmu ini kita dapat mengetahui gambaran bahasan ilmu dilalah secara menyeluruh. Dan setelah mengetahui defenisinya kita lebih yakin bahwa gambaran bahasan ilmu dilalah adalah demikian. Namun penulis rasa tidak ada salahnya jikalau penulis mencoba tuk berusaha berbagi dengan teman-teman pembaca dalam hal ini. Sebab, init daripada ilmu dilalah itu sendiri adalah bahasannya. Dan setiap ilmu juga demikian bahasan adalah inti dari suatu ilmu.

Diantara sekian banyaknya bahasan ilmu dilalah, penulis akan mencoba mengambil sebagiannya yang penulis rasa amat penting dalam bahasan ilmu dilalah ini. Di antaranya, bahasa itu sendiri, ad-daal wa madluul (kata dan makna), pembagian dilalah, tathawwur dilaly dan hakikat dan majaz.

1. Bahasa

Tak dapat dipungkiri betapa penting dan berharganya bahasa dalam kehidupan manusia, tidak terkecuali para saintis dalaly. Kemunculan disiplin ilmu ini tidak terlepas dari peranan saintis bahasa yang ingin dan berusaha mengembangkan bahasa. Dan hasilnya, hadirlah satu displin ilmu baru yang akan mewarnai dinamika studi bahasa.

Pada awal mula munculnya ilmu ini, bahasa mengalami pengkajian yang meluas dan yang paling menyibukkan saintis bahasa adalah masalah asal muasal bahasa. Masalah inilah yang membuat para saintis berpikir keras dan pada akhirnya mereka terbagi dalam tiga golongan dari mereka. Pertama, ada yang berpendapat bahwa asal bahasa adalah tauqifiah thabaiyyah. Kedua, golongan ini berpendapat bahwa bahasa adalah 'urfiah isthilahiah. Ketiga, golongan yang berusaha menggabungkan kedua pendapat tersebut itu. Dan sebagian besar saintis bahasa tetap berusaha mencari problem solving dalam hal ini. Namun, masalah ini makin menjadi rumit dan sukar seiring dengan banyaknya pendapat dan teori yang membahas masalah sala muasal bahasa. Sehingga organisasi bidang kebahasan Perancis (la societe de linguistique) mengeluarkan undang-undang larangan memberikan ceramah tentang asal muasal bahasa[10].

2. Ad-daal wa Al-madluul (kata dan makna)

Di antara bahasan penting yang dibahas oleh ulama Alsun (fonology) dan Dilalah (Semantic) adalah masalah kata dan makna. Pada mulanya, bahasan studi bahasa hanya menyoal hubungan antara lafadz dan makna. Setelah ilmu dilalah mengalami perkembangan, bahasannya pun meluas dan mencakup daal wa madluul, baik daal itu adalah lafadz atau bukan lafadz. Dan pada akhirnya bahasa tak lain adalah hubungan yang mengikat antara daal dan madluulnya dalam lingkup network yang teratur. Hal itu karena daal sendiri tidak mengusung makna yang ia bawa sendiri melainkan sebagai sumber dalalah yang menghubungkan daal dan madluulnya. Pendapat ini sendiri yang dipegang oleh DR. Abdul Salam Al-Masdy dalam bukunya Al-Lisaniyyaat wa Ususuha.

Beda lagi dengan pendapat Souser mengenai daal dan madluul, ia mengistilahkanna dengan Ad-dalil Al-lisany. Ad-Daal­ -menurutnya- adalah kualitas suara atau bentuk acoustic. Sedangkan al-madluul adalah ide pokok[11].

3. Pembagian Dilalah

Ada beberapa makna dalalah bila ditinjau dari sisi daal dan madluul. Para saintis dalali pun membedakan makna-makna tersebut, antaralain;

a. Makna Asaasi atau Gambaran, yaitu makna utama yang mengandung satu arti dalam sistem perkamusan;

b. Makna Idhafi, yaitu makna tambahan atas makna utama yang hanya dapat diketahui dari gaya bahasa kalimat tersebut;

c. Makna Usluubi, yaitu makna yang membatasi nilai-nilai ungkapan yang khusus dalam bidang budaya dan sosial;

d. Makna Nafsi, yaitu makna yang mengandung secara khusus bidang psychology/kejiwaan dalam diri seorang;

e. Makna Iihaai, yaitu makna isyarat yang berkaitan dengan kosakata yang dapat digambarakan dan diungkapnkan dengan isyarat[12].



Penutup

Sebelumnya, penulis memohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang terdapat dalam tulisan ini, baik tersengaja maupun tak tersengaja. Dan penulis memang yakin bahwa dalam tulisan ini banyak sekali terdapat kesalahan di sana-sini. Mulai dari kekuranglengkapan bahasan dan cakupannya, referensi dan kesalahan internal (gaya dan metode penulisan). Namun demikian, penulis berharap kiranya coretan ini bisa menjadi motivasi dalam menimba khasanah ilmu bahasa.

Wa Syukran .. Wassalam ..

[1] DR. Ali Samy An-Nasshar, Manaahej Al-Bahs 'Inda Mufakkiry Al-Islam, (Beirut: Dar An-Nahdhah Al-Arabiah, 1984), h. 31.

[2] DR. Ahmad Mukhtar Umar, Ilmu Ad-Dilalah, (Cet. II; Beirut: Aalam Al-Kutub, 1988), h. 19.

[3] Ibid.

[4] DR. Manqur Abdul Galey, Ilmu Ad-Dilalah, Ushuluh wa Mabahitsu Fi At-Turats Al-Araby, (Damaskus: Maktabah Al-Asad, 2001), h. 15.

[5] Ibid.

[6] DR. Shafiyyah Muthahhiry, Ad-Dalalah Al-Iihahiah Fi Ash-Shigha Al-Fardiah, (Damaskus: Dar Ittihad Al-Kuttab Al-Arab, 2003), h. 15.

[7] DR. Manquur Abdul Galey, op. cit., h. 11.

[8] DR. Abdul Karim Muhammad Hasan Jabal, Fi 'Ilm Ad-Dilalah; Dirasah Tathbiiqiah Fi Syarh Al-Anbary Lilmufaddhaliayyaat, (Cairo: Dar Al-Ma'rifah al-Jami'iah, 1997), h. 20.

[9] http://ar.wikipedia.org/wiki/

[10] DR. Manquur Abdul Galey, op. cit., h. 52.

[11] DR. Manquur Abdul Galey, op. cit., h. 58.

[12] DR. Manquur Abdul Galey, op. cit., h. 64.

Menu Utama

* Home
* Tentang Gue
* Kuliah Gue
* Coretan
* Info Penting

Artikel

* Makalah Kajian
* Tulisan Ilmiyah
* Sastra
* Artikel bebas

Downloadan

* Software
* Ebook
* Digibook
* Khijanatul kutub
* Lain-lain

Posting Terkini

* Latihan Singkat Bernegosiasi Jitu Disegala Situasi
* Membangun Tempat Kerja Bersemangat Tinggi
* Perbankan Syariah
* The Female Brain
* Lelucon 1001 Malam
* Hikayat Kalilah & Dimnah


Copyright © 2009 - 2010 Igoen's Web. Designed by ahmadgunawan.com
Anda tertarik dengan artikel ini? Bila Anda ingin me-Copy artikel ini,
Silahkan besertakan sumber dengan menaruh alamat berikut ke dalam artikel :

Loading...
digg it
buzz yahoo
google
Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook
reddit

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar